Portal Berita Sulawesi

Reportase

Kekuasan Dinasti Nayoan diatas Tanah onderneming

admin

Minggu, 28 Juni 2015 02:21:52 WIB   |  4458 pembaca  

Bermula dari sengketa lahan peninggalan penjajah Belanda, Kisah kelam warga Bohotokon Kec. Bunta Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah itu dimulai dan seolah terus mengalir tanpa akhir.

Problem utamanya, yaitu sengketa tanah antara masyarakat dengan salah satu pengusaha lokal pemegang HGU bermarga Nayoan.  Kasus sengketa agraria antara petani Bahotokong melawan pengusaha (Teo Nayoan-red) di Desa Bohotokong  atau 600km dari kota Palu, telah berlangsung sejak tahun 1982.

Sejak 1982 terhitung sebanyak 4 kali petani mengajukan permohonan untuk mendapatkan sertifikat atas tanah bekas-onderneming tersebut dan BPN berjanji akan menerbitkannya. Tetapi, sampai sekarang janji tersebut tidak pernah ditepati oleh Pihak BPN.

Tahun 1997 secara mengejutkan BPN mengeluarkan sertifikat HGU kepada pengusaha (Djoni Nayoan) atas lahan bekas onderneming yang sudah menjadi kebun – kebun masyarakat. Fase ini menandai babakan baru dalam sejarah perjuangan petani Bohotokong.

Sejak terbitnya HGU, petani selalu dikriminalisasi dan diintimidasi. Berdasarkan catatan Front Perjuangan dan Pembaruan Agraria Sulawesi (FPPAS), kriminalisasi telah berlangsung sebanyak puluhan kali. Hal ini meliputi pengancaman, penahanan warga, maupun upaya-upaya menuntut warga ke jalur hukum.

Akibat ada kejanggalan yang mengarah pada kriminalisasi petani bohotokon, Kordinator Kontras lewat tulisannya secara resmi di tanggal 20, Oktober 2008, menyesalkan hal tersebut.

Kami menyesalkan upaya Kepolisian Resort Banggai Sulawesi Tengah yang kembali melakukan  kriminalisasi terhadap masyarakat Bohotokong, pada 8 Oktober 2008 lalu. Pihak Polres Banggai telah melakukan pemanggilan kepada 15 orang anggota masyarakat terkait dugaan pencurian buah kelapa. Tulis Usman Hamid Koordinator Kontras.

Sekalipun telah menjadi sorotan Kontras, namun kondisi warga Bohotokon tetap dalam kondisi yang memprihatinkan.

Bahkan dalam catatan Kronik Kekerasan oleh Front Perjuangan dan Pembaruan Agraria Sulawesi disebutkan beberapa kali keluarga besar bermarga Nayoanmelakukan intimidasi terhadap sejumlah warga.

Dalam kronik itu jelas pada 4 April 1991 terjadi Pengancaman dengan pistol oleh Jony Nayoan pada Husen Taher Ramsia Latabila sebagai Kepala Desa Bohotokong saat itu

Husen Taher di todong oleh Jony Nayoan menggunakan pistol sambil dengan lantang berkata “Pak kades tidak usah turut campur dengan urusan tanah, jika tidak hukum rimba yang akan berlaku”. Ramsia Latabila istri kades sempat tak sadarkan diri saat menyaksikan peristiwa tragis itu [Syf]

Download : Kronik Kekerasan Aparat Keamanan Terhadap Petani Bohotokong



Bagikan :
Tags :
# banggai
close