Portal Berita Sulawesi

Fokus

Sarpin Tokoh Eks PKI Saat Melawan Permesta, Peran Kedatukan Tidak Banyak Membantu

admin

Sabtu, 20 Juni 2015 01:56:56 WIB   |  951 pembaca  

Menjadi ketetarikan tersendiri ketika sejarah mencatat pula, sebelum bergabung ke Partai Komunis Indonesia (PKI), Sarpin adalah garda front nasional yang terlibat langsung dalam mempertahankan NKRI dari gerakan pemberontak Perlawanan Semesta (PERMESTA). BACA : Sarpin Tokoh Eks PKI Banggai, 13 Tahun di Balik Jeruji

Bergabung bersama GPST (Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah) menjadi kebanggaan tersendiri bagi Sarpin, Maksud menggugah kesadaran pemuda Sulawesi Tengah di Poso untuk bergabung dalam suatu Gerakan guna melawan secara total terhadap kekuasaan Permesta mulai dari Poso, Tentena, Mori, Kolonodale, Bungku, Tojo, Ampana, hingga Luwuk Banggai.

Pemimpin GPST wilayah Luwuk Banggai dipegang oleh Eddy Martono. Bermula dari Camat Batui atau kepala distrik Batui yang bernama Badaru Salam yang menolak dan tidak taat pada Permesta sewaktu permesta memutuskan hubungan dengan Jakarta.

Badru Salam inilah yang membina hubungan dengan GPST dari Poso. GPST Luwuk pun mulai melakukan gerakan ketika Robert M. Tengkow menggalang dan rapat dengan pemuda-pemuda untuk melakukan perampasan atau pencurian senjata di Asrama Permesta.

Seumuran remaja SMA Sarpin saat itu, dirinya sangat bersemangat melawan disintegrasi yang di kumandangkan Vencte Sumual Pimpinan Permesta,” Badaru Salam mengarahkan setiap gerakan perlawanan, kami lebih mandiri. Tidak ada sokongan penuh Kerajaan Banggai dari S.A Amir,” Aku Sarpin kepada Transs  di rumahnya, Jl Boloa Boloa Kelurahan Sisipan Kabupaten Banggai, Jumat (19/06/2015).

Sehingga perlawanan kala itu lebih dikendalikan Badaru Salam sebagaai Kepala District Batui atau setingkat camat.

“Padahal kedatukan (datuk-red) atau yang lebih dikenal Tomundo masih sangat melekat, tapi Tomundo tidak cukup membantu.” Kata Sarpin.

Perjuangan perlawanan kepada Permesta semakin terkonsep setelah di Kota Poso, dibawah komando  pemuda Asa Bungkudapu, mengorganisir para pemuda. Mereka berangkat ke sebuah desa kecil bernama Korontjia (baca: Koroncia) di Kabupaten Palopo Sulawesi Selatan, untuk menyusun strategi perlawanan menghadapi Permesta. Dari Desa Korontjia itu, para pemuda Sulawesi Tengah  pada tanggal 30 April 1958 membuat sebuah deklarasi kesetiaan kepada Republik Indonesia dan tekat untuk melawan Permesta. Deklarasi  yang bernama “Naskah Korontjia” itu diteken oleh Asa Bungkudapu atas nama Ketua Umum GPST, juga diteken oleh Alex Soetadji, Wakil KDO RTP-16 Brawidjaya. Kemudian dibacakan di Lapangan Korontjia Distrik Kalaena Kewedanaan Malili  Kabupaten Palopo Sulawesi Selatan.

Sejak Naskah Korontjia itu diteken,  saat itu pula pemuda-pemudi Sulawesi Tengah yang tergabung dalam GPST menyatukan tekad untuk melawan para  tentara sempalan yang  bergabung dalam Permesta. GPST sendiri saat itu terbilang sebagai pasukan sipil bersenjata yang  mendapat dukungan dari petinggi militer di Jakarta. Bala bantuan TNI dari Jawa dan Kalimantan di datangkan ke Sulawesi Tengah. Di Kabupaten Poso  mendapat bantuan dari pasukan TNI Brawijaya, sementara di Kabupaten Banggai dari  pasukan  TNI Tanjungpura.  [Syf]

 


Bagikan :
Tags :
# banggai
close