Portal Berita Sulawesi

News Maker

Saat Hujan Warga konsumsi Air Bercampur Lumpur

admin

Rabu, 11 Februari 2015 17:34:09 WIB   |  1337 pembaca  

Ratusan warga pinapuan hingga kini masih mengharapkan belas kasih pemerintah Kabupaten Banggai untuk menormalisasi aliran mata air Badakolu  yang menjadi sumber air utama bagi 372 jiwa di desa itu.

Desa pinapuan yang berjarak 3 Km dari ibu kota kecamatan Pagimana, Kab. Banggai, Sulawesi Tengah menjadi perhatian banyak pemerhati lingkungan setelah sumber air mereka satu satunya tercemar lumpur urug dari eksplorasi nikel.

Yotam Tapa (57) warga Pinapuan sampai saat ini masih berjuang ke ibu kota propinsi Sulawesi Tengah untuk mendapat pendampingan dari jaringan advokasi tambang maupun Yayasan Merah Putih di Palu.

Menurut Yotam, PT ASTIMA ( Anugrah Sakti Utama)adalah pelaku utama perusakan sumber mata air hingga kemudian air bercampur lumpur cokelat apalagi ketika musim penghujan tiba.

PT ASTIMA sendiri adalah perusahan tambang nikel yang beroperasi sejak tahun 2011 dan pada akhir tahun yang sama PT ASTIMA telah melakukan pengapalan.

Sekalipun PT ASTIMA telah menghentikan aktifitasnya karena adanya perubahan UU pertambangan dan smelter, namun dampak yang disisakan masih sangat dirasakan warga Pinapuan. Pernah warga setempat mencari solusi dengan membuat sumur bor , tapi kedalaman 30 meter sama sekali tidak menghasilkan air.

“ Kami belum tau, bagaimana memulihkan sumber mata air, bahkan air yang kita konsumsi menurut pegawai dinas kesehatan yang pernah datang mengambil sampel sudah terkontaminasi lumpur bercampur serbuk bahan tambang.” Kata Yotam (11/02).

Tidak hanya Yotam, krisis air bersih yang diakibatkan eksplorasi tambang nikel itu membuat anak anak jarang mandi saat kesekolah, bahkan saat ibadah gereja jarang dari mereka yang mandi, keluh warga Pinapuan lainnya saat di Transs.

Lokasi tambang yang dekat perkampungan dan mata air badakolu dinilai banyak pihak harus diseriusi. “ Harus ada langkah langkah yang di ambil pihak terkait untuk menyelamatkan 372 jiwa di Pinapuan,” ungkap Syarif aktivis YTM di Palu.

REPORTER / PENULIS : PRITZNO DUNGGIO



Bagikan :
Tags :
# banggai
close